Rabu, 10 Oktober 2018

Makalah Filsafat Islam Al-Farabi






BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Mengkaji filsafat islam tidak semudah membalikkan telapak tangan, ia sarat dengan muatan teologis dan historis. Secara historis, tarik menarik kepentingan bahwa orientasi filsafat itu berasal dari Yunani atau dari Islam adalah fakta yng tidak bisa dihindari. Begitu pula, dalam tataran teologis, penerimaan filsafat kerap berbenturanantara keimanandan pemikiran liberal filsafat.
Dalam tradisi filsafat, agar bisa sampai pada suatu makna yang esensi dari suatu hal, seseorang harus melakukan penjelajahan secara radikal, logis dan serius. Itulah sebabnya , Aristoteles memberikan komentar, “apabila hendak menjadi seorang filsafat, Anda harus berfilsafat”. Adapun dalam makalah ini kami akan membahas biografi Al-Farabi dan pemikiran filsafat Al-Farabi.

B.       Rumusan Masalah
1.    Bagaimana biografi Al-Farabi?
2.    Apa saja karya-karya Al-Farabi?
3.    Bagaimana filsafat Al-Farabi?

C.      Tujuan
1.    Untuk mengetahui bagaimana biografi Al-Farabi.
2.    Untuk mengetahui apa saja karya-karya Al-Farabi.
3.    Untuk mengetahui bagaimana filsafat Al-Farabi.







BAB II
PEMBAHASAN

A.      Al-Farabi
1.        Biografi Al-Farabi
Abu Nasr al-Farabi lahir pada tahun 258 H/870 M dan meninggal pada tahun 339 H/950 M. Sebagai pembangun agung sistem filsafat, ia telah membaktikan diri untuk berfikir dan merenung, menjauh dari kegiatan politik, gangguan dan kekisruhan masyarakat. Ia telah meninggalkan sejumlah risalah penting. Di samping murid-murid yang belajar langsung, banyak pula orang yang mempelajari karya-karyanya sepeninggalnya, dan menjadi pengikutnya. Filsafatnya menjadi acuan pemikiran ilmiah bagi Barat dan Timur, lama sepeninggalnya.
Sejak dasa warsa terakhir abad ke-13 H/ke-19 M, telah dilakukan banyak usaha untuk menulis bigrafinya, mengumpulkan karya-karya yang belum diterbitkan, dan menjelaskan berbagai hal yang masih samar di dalam karya filsafatnya. Pada tahun 1370 H/1950 M, seribu tahun setelah meninggalnya, beberapa sarjana Turki menemukan beberapa karyanya yang masih berupa naskah dan memecahkan beberapa kesulitan yang berkaitan dengan pemikirannya. Kita tak dapat mengatakan bahwa seluruh kesulitan itu telah terpecahkan. Bahkan kita tidak dapat memastikan apakah mampu memecahkan semua kesulitan itu tanpa mengetahui lebih jauh kehidupan dan karya-karyanya. Perpustakaan-perpustakaan umum dan pribadi masih menyimpan banyak naskah Islami; menurut hemt kami, kinilah saatnya naskah-naskah itu dikeluarkan.

2.      Kehidupannya
     Berbeda dengan kelaziman beberapa sarjana Muslim lainnya, Al-farabi tidak menuliskan riwayat hidupnya, dan tak seorang pun diantara pengikutnya merekam kehidupannya, sebagaimana telah dilakukan Al-Juzjani untuk gurunya, Ibnu Sina. Materi untuk itu  dalam karya-karya ahli riwayat, sangat tidak memuaskan dan tidak memadai. Biografi yang agak panjang termaktub dalam Wafayat al-A’yan-nya ibn Khalikan,[1] pada waktu mudanya, Al-Farabi pernah belajar bahasa dan satra Arab di Bagdad kepada Abu Bakar al-Saraj, dan logika serta filsafat kepada Abu Bisyr Mattitus ibn Yunus, seorang Kristen Nestorian yang banyak menerjang mahkan filsafat Yunani, dan kepada Yuhana ibn Hailam. Kemudian ia pindah ke harran, pusat kebudayaan Yunani di Asia kecil, dan berguru kepada Yuhana ibn Jilad. Tetapi tidak berapa lama, ia kembali ke Bagdad untuk memperdalam Filsafat. Ia menetap di kota ini selama 20 tahun.[2] Di Bagdad ini juga ia menulis dan membuat ulasan terhadap buku-buku filsafat Yunani dan mengajar. Di antara muridnya yang terkenal adalah Yahya ibn ‘Adi, filsuf Kristen.
     Pada tahun 330 H (945 M), ia pindah ke Damaskus, dan berkenalan dengan Saif al-Daulah al-Hamdani, Sultan Dinasti Hamdan di Aleppo. Sultan memberinya kedudukan sebagai seorang ulama istana dengan) tunjangan yang besar sekali, tetapi Al-Farabi lebih memilih hidup sederhana (zuhud) dan tidak tertarik dengan kemewahan dan kekayaan. Ia hanya memerlukan empat dirham saja sehari untuk sekedar memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Tetapi, hal yang menggembirakannya di tempat yang baru ini, Al-Farabi bertemu dengan para satrawan, penyair, ahli bahasa, ahli fiqih, dan kaum cendekiawan lainnya. Konon, kegemaran membaca dan menulisnya sering dilakukannya di bawah sinar lampu penjaga malam. Adapun sisa tunjangan jabatan yang diterimanya, dibagi-bagikan kepada fakir-miskin dan amal sosial di Aleppo dan Damaskus. Lebih kurang 10 tahun Al-Farabi hidup di dua kota ini semakin memburuk, sehingga Saif al-Daulah menyerbu kota Damaskus yang kemudian dapat dikuasai. Dalam penyerbuan ini Al-Farabi diikutsertakan. Pada bulan Desember 950 Al-Farabi meninggal di Damaskus di dalam usia 80 tahun.
     Al-Farabi yang dikenal sebagai filsuf Islam terbesar, memiliki keahlian dalam banyak bidang keilmuan dan memandang filsaf secara utuh dan menyeluruh serta mengupasnya dengan sempurna, sehingga filsuf yang datang sesudahnya, seperti ibn Sina dan ibn Rusyd dapat mengambil dan mengupas sistem filsafatnya. Pandangannya  yang demikian mengenai filsafat, terbukti dengan usahanya untuk mengakhiri kontradiksi antra pemikiran plato dengan Aristoteles lewat risalahnya Al-Jam’u  Ra’yay Al-Hakimin Aflathun wa Aristhu. Ada riwayat yang menyebutkan bahwa ibn Sina telah membaca 40 kali buku metafisika karangan Aristoteles, bahkan hampir seluruh isi buku itu dihapalnya, tapi belu dipahaminya. Barulah Ibn Sina memahami benar filsafat Aristoteles setelah membaca buku Al-Farabi, Tahqiq Ghardh Aristhu fi Kitab ma Ba ‘da al-Thabi ‘ah yang menjelaskan tujuan dan maksud metafisika Aristoteles. Pengetahuannya yang mendalam mengenai filsafat Yunani, terutama Plato dan Aristoteles, ia dijuluki al-Mu ‘allim al-Tsani (guru kedua), sedangkan al-Mu ‘allim al-Awwal (guru pertama) adalah Aristoteles.[3]

3.      Karyanya
     Adapun hasil karya Al-Farabi yang masih lestari sampai sekarang adalah:
1.      Maqalatun fi ma’anil-aql. Berisi tentang akal, pembagiannya dan sumber ilmu (makrifat).
2.      Al-Jami’ baina rakyil-Hakimain. Di antara kandungannya ialah mempertemukan pendapat dua orang filosof Yunani yang masyur Plato dan Aristoteles.
3.      Fima yanbaghi an-yuqaddima qabla ta’allumil falsafah. Dalam buku ini ia mengemukakan bahwa logika tidak termasuk filsafat, tetapi sebagai alat untuk mempelajarinya.
4.      Al-Ibanah an ghardhi Aristo fi kitabi ma ba’dat tabi’ah. Penjelasan tujuan  metafisika Aristoteles terutama tentang hakikat wujud di tinjau dari materi dan bentuk.
5.      Al-Masa-ilul-falsafah wal ajwibatu anha. Kelanjutan penjelasan dari buku ke empat di atas, untuk sampai menetapkan Tuhan sebagai pencifta alam ini.
6.      Fushushul-hikam. Membahas tentang qidam dan hadisnya alam, kedudukan Malaikat langit dan dunia.
7.      Ara’ u ahlil-madinah al-fadhilah. Suatu teori tentang politik kekotaan (negara utama), di mana warga negaranya makmur dan bahagia.
8.      Ihsha al-ulum wat-ta’rif bi aghradhiha. Menjelaskan tentang pembagian dan macam-macam ilmu.
9.      Syuruh Risalah Zainun al-Kabir al-Yunani.
10.   Al-Ta ‘liqat.
11.  Risalah fima Yajibu Ma ‘rifat Qabla Ta ‘allumi al-Falsafah.
12.  Kitab Tahsil al-Sa ‘adah.
13.  Risalah fi Itsbat al-Mufaraqah.
14.  ‘Uyun al-Masa’il.
15.  Risalah al-‘Aql.[4]
16.  Al-Siyasah al-Madaniyah.

4.    Filsafatnya
1.      Pemaduan Filsafat
                        Al-Farabi berusaha memadukan beberapa aliran filsafat (al-falsafah al- taufiqiyyah atau wahdah al-falsafah) yang berkembang sebelumnya, terutama tentang pemikiran Plato, Aristoteles dan Plotinus, juga antara agama dan filsafat. Karena itu ia dikenal filsuf sinkretisme yang mempercayai kesatuan filsafat. Dalam ilmu logika dan logika dan fisika ia dipengaruhi oleh Aristoteles. Dlam akhlak dan politik ia dipengaruhi oleh Plato. Sedangakan dalam metafisika ia dipengaruhi oleh Plotinus.
                        Untuk mempertemukan dua filsafat yang berbeda seperti Aristoteles dan Plato mengenai idea—Aristoreles tidak mengakui bahwa hakikat itu adalah idea, karena bila hal tersebut diterima maka alam realitas ini tidak lebih dari alam khayal atau sebatas pemikiran saja, sedangkan Plato mengakui idea sebagai satu hal berdiri sendiri dan menjadi hakikat segala-galanya—Alfarabi menggunakan interpretasi batini, yakni dengan ta’wil. Menurut Al-Farabi Aristoteles sebsnarnya mengakui alam rohani yang terdapat diluar alam ini. Jadi kedua filsuf sama-sama mengakui adanya idea-idea pada zat Tuhan. Kalaupun terdapat perbedaan kemungkinan terjadi karena 3 hal:
1.      Defenisi tentang filsafat tidak benar.
2.      Pendapat orang banyak tentang pemikiran filsafi dari kedua filsuf tersebut dangkal.
3.      Pengetahuan adanya perbedaaan antara keduanya tidak benar.
                        Adapun perbedaan agama dengan filsafat tidak ada karena keduanya mengacu pada kebenaran meskipun posisi dan cara memperolehnya berbeda. Dan kebenaran yang terdapat pada keduanya serasi karena bersumber dari Akal Aktif. Kebenaran yang diperoleh filsub berasal dari Akal Mustafad, sedangkan Nabi melalui wahtu. Dan jika bertentangan antara keduanya maka digunakanlah ta’wil filosofis. Dengan demikian filsafat yunani tidak bertentangan dengan ajaran Islam.[5]
  
2.      Metafiska
                        Ada tiga segi pokok permasalahan metafisika, yaitu:
1.      Segi esensi (zat) dan eksistensi (wujud) sesuatu.
2.      Pokok Utama segala yang maujud.
3.      Prinsip utama gerak dasar menurut ilmu pengetahuan.[6]
                        Dalam masalah ketuhanan, Al-Farabi menggunakan pemikiran Aristoteles dan Neo-Platonisme, yakni al-maujud al-awwal sebagai sebab pertama bagi segala yang ada. Bagi Al-Farabi zat ada dua bagian, yakni  Wajib al-Wujud dan Mumkin al-wujud.
                        Wajib al-Wujud (wajib ada) adalah wujudnya tidak boleh tidak ada, ada dengan sendirinya, esensi dan wujudnya sama dan satu. Yakni wujud yang sempurna selamanya, jika tidak maka timbul kemustahilan karena wujud lain tergantung padanya. Inilah yang disebut dengan Tuhan. Sedangkan Mumkin al-wujud (mungkin ada) yaitu yang pernah tidak ada dan kemudian ada dan keadaannya itu bisa berakhir seperti bumi. Dan tidak akan berubah tanpa ada yang menguatkan yakni Wajib al Wujud.
                        Tentang sifat Tuhan Al-farabi sepaham dengan Mu’tazilahyani sifat Tuhan tidak berbeda deengan Substansinya. Orang boleh menyebut Asma’ al-husna sebanyak-banyaknya, namun tidak menunjukkan sifat yang berbeda dengan zat Nya. Tuhan adalah ‘Aql, ‘Aqil, dan Ma’qul (Akal, Substansi yang berfikir, dan Substansi yang difikirkan), dan juga ‘ilm, ‘Alim, dan Ma’lum (Ilmu, substansi yang mengetahui, dan substansi yang diketahui).
                        Tentang ilmu Tuhan Al-Farabi terpengaruh Aristoteles yang mengatakan Tuhan tidak menetahui dan memikirkan alam. Pemikiran ini dikembangkan Al-Farabi dan mengatakan Tuhan tidak mengetahui yang Juz’iyyah (particular) maksudnya pengetahuan Tuhan tentang yang rinci tidak sama dengan manusia, Tuhan dapat menangkap yang kulli (universal). Sedangkan Juz’i hanya dapat ditangkap panca indera.[7]

3.      Teori Emanasi (Nazhariatul-Faidh)
            Tentang penciptaan alam Al-Farabi mengemukakan teori tentang emanasi. Yang merupakan gabungan teori Aristoteles dan Plotinus. Bagi Aristoteles Tuhan adalah akal yang berfikir sedangkan Plotinus telah mencetuskan teori emanasinya. Al-Farabi menggabungkan kedua teori tersebut menjadi teori emanasinya.
                        Emanasi pada dasarnya terjadi dalam bentuk tunggal dan bertingkat secara mekanis determinis yang akhirnya melahirkan alam yang aneka warna. Dari tunggal pertama lahir tunggal kedua sebagai satu kesatuan, dari yang kedua timbul yang ketiga dan seterusnya hingga sampai pada yang kesepuluh.
                        Jelasnya proses emanasi diterangkan sebagai berikut: Tuhan sebagai wujud pertama dan akal murni, yang menjadi subjek fikir sekaligus objeknya. Dengan ta’aqqul (berfikir) mulailah ciptaan Tuhan dengan pelimpahan. Tuhan merupakan wujud pertama (wujud al-awwal) dengan pemikiran itu timbul wujud kedua (dalam urutan emanasi) itu disebut Al-Aqlul-awwal (akal I). Akal I berta’aqqul terhadap wujud pertama melimpahkan Al-Aqlu ats-tsani (akal II) dan ta’aqqul terhadap dirinya sendiri melahirkan Al-Falakul-a’la (langit pertama), dan mulai terdapat keanekaragaman (pluralitas). Akal II/wujud ketiga berta’aqqul tentang wujud pertama, melahirkan Al-Aqlu ats-tsalis (akal III) atau wujud keempat dan ta’aqqulnya terhadap dirinya sendiri menimbulkan Kurratul Kawakib ats-tsabitah (bintang-bintang). Demikianlah seterusnya ta’aqqul akal III/wujud keempat melimpahkan akak IV/wujud kelima dan berta’aqqul terhadap dirinya sendiri melahirkan Kurratuz-Zuhal (Planet Saturnus) yang bersamaan muncul dengan akal IV/wujud kelima, Kurratul Musytari (planet Yupiter) sama lahir dengan akal V/wujud keenam, Kurratul Marikh(planet Mars) bersamaan lahir dengan akal VI/wujud ketujuh, Kurratusy-syams (matahari) sama timbul dengan akal VII/wujud kedelapan, Kurratu Az-Zahrah (planet Venus) sama memancar dengan akal VIII/wujud kesembilan, Kurratul-Utharid (planet merkurius) sama muncul dengan akal IX/wujud kesepuluh, Kurratul-Qamar (bulan) sama melimpah dengan akal X/wujud kesebelas.[8]
                        Pada wujud kesebelas tidak ada lagi pelimpahan, tetapi dari akal X yang disebut Al-Aqlul-Fa’al (akal aktif) terpancarlah jiwa dan unsur pertama materi. Dari akal 10 muncul bumi sera roh-roh yang menjadi dasar keempat unsur yakni api, udara, air dan tanah. Demikian ada 10 akal dan 9 langit (dari teori Yunani  tentang 9 langit [sphere] yang kekal berputar disekitar bumi). Akal 10 mengatur dunia disebut juga ‘Aql Fa’al (Akal Aktif) atau wahib al-shuwar (pemberi bentuk) dan terkadang disebut Jibril mengurusi kehidupan dibumi. Hal ini disebabkan Tuhan berpikir tentang diri-Nya menghasilkan daya atau energy yang karenanya menghasilkan sesuatu, maka terciptalah akal 1 sampai 10.
                        Al-Farabi mengklasifikasikan yang wujud kepada dua rentetan:
1.      Rentetan wujud yang esensinya tidak berfisik. Varitas yang tidak berfisik tidak menempati fisik (Allah, Akal Pertama, dan Uqaul al-Aflak. Serta yang tidak berfisik menempati fisik (Jiwa, bentuk dan materi).
2.      Rentetan wujud yang berfisik, yaitu benda-benda langit, manusia, hewan, tumbuhan, benda tambang dan keempat unsur.
      Tujuan Al-farabi mengemukakan teori emanasi tersebut untuk menegaskan kemahaesaan Tuhan.[9]

4.      Jiwa
                        Tentang jiwa, Al-Farabi juga dipengaruhi oleh filsafat Plato, Aristoteles, dan Plotinus. Jiwa bersifat rohani, bukan materi, terwujud setelah adanya badan dan jiwa tidak berpindah ke badan yang lain.
                        Jiwa manusia disebut al-nafs al-nathiqah, yang berasal dari alam ilahi, sedangkan jasad berasal dari alam khalq, berbentuk, berupa, berkadar, dan bergerak. Jiwa manusia mempunyai daya-daya,sebagai berikut:
1.      Daya gerak (al-Muharrikah, montion), yakni makan, memelihara, dan berkembang.
2.      Daya mengetahui (al-Mudrikah, cognition), yakni merasa, imaginasi
3.      Daya berpikir (al-Nathiqah, intellection), yakni akal praktis, dan akal teoritis. Daya teoritis terbagi kepada tiga tingkatan, yaitu:
1.      Akal Potensial (material intellect) mempunyai potensi berfikir dalam arti:melepaskan arti atau bentuk materialnya
2.      Akal Aktual (actual intellect) telah dapat melepaskan dari materialnya dan mempunyai wujud akal sebenarnya berbentuk actual.
3.      Akal Mustafad (acquired intellect) menangkap bentuk yang tidak dikaitkan dengan materi dan mempunyai kesanggupan mengadakan komunikasi dengan akal 10.
      Mengenai keabadan jiwa, Al-Farabi membedakan menjadi jiwa khalidah dan fana. Jiwa khalidah, yaitu jiwa yang mengetahui kebaikan dan perbuatan baik serta dapat melepaskan diri dari ikatan jasmani, dan tidak hancur. Sedangkan jiwa fana adalah jiwa jahiliah, tidak mencapai kesempurnaan karna belum dapat melepaskan diri dari ikatan materi dan hancur sehancur-hancurnya badan.

5.      Politik
                        Pendapat tentang Negara utama banyak dipengaruhi oleh konsep Plato yang menyamakan Negara dengan tubuh manusia. yang paling penting adalah kepala, karena dari kepala (otak) segala perbuatan manusia dikendalikan.
                        Menurut Al-Farabi yang paling penting dalam Negara adalah pimpinannya, bersama dengan bawahannya sebagaimaan halnya jantung dan organ tubuh yang lebih rendah berturut-turut. Haruslah orang yang unggul dan berkualitas berupa: 1)kecerdasan, 2) ingatan yang baik, 3) pikiran yang tajam, 4) cinta pada pengetahuan, 5) sikap moderat dalam makanan,minuman, 6) cinta pada kejujuran, 7) kemurahan hati, 8) kesederhanaan, 9) cinta keadilan, 10) ketegaran dan keberanian, 11) kesehatan jasmani, 12) kefasihan berbicara.[10]
                       
6.      Moral
                        Masalah nilai baik dan buruk dalam etika erat kaitannya dengan metafisika yang menyangkut akal kesepuluh yang dirasakan melalui akal mustafad, inilah yang membawa kebahagiaan abadi.
                        Dalam kitab at-Tanbih fi Sabilis-Sa’adah Al-Farabi menyebutkan bahwa cara praktis mencapai kebahagiaan orang harus membiasakan melakukan perbuatan baik hingga menjadi akhlak yang meresap dalam dirinya. Diantaranya: memperhatikan kesehatan, tidak berlebihan dalam makan dan minum, bersifat jujur, berani, hemat, dan hidup bersih.
                        Martabat manusia ditentukan oleh perbuatannya, orang yang menuruti syahwatnya akan berbuat yang buruk, dan dialah orang yang sesat. Orang yang berfikir sehat, perbuatannya mengarah pada yang baik-baik, dialah manusia merdeka. Hal ini sejalan dengan kehidupan aufinya, dimana ia lebih banyak berfikir, merenung dan mengarang.

7.      Teori Kenabian
                               Sebagaimana diketahui akal sepuluh data berkomunikasi langsung dengan manusia. dengan inilah para filosof mendapat hakikat-hakikat demikian juga para nabi/rasul. Mereka menerima wahyu melalui komunikasi akal kesepuluh ini jelas bahwa kebenaran yang diterima nabi/rasul tidak bertentangan, mereka menerima kebenaran dari sumber yang sama.
                              Al-Farabi mengakui ketinggan nabi/rasul daripada filosof, karena nabi/rasul sudah dipilih Tuhan, tanpa usahanya sendiri ia mendapat wahyu, tetapi filosof harus bekerja keras untuk mendapatkan inspirasi dari akal kesepuluh. Al-Farabi juga mengakui ketinggian agama dari filsafat. Baginya filsafat yang benar ialah yang tidak bertentangan dengan agama.[11] 

BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
             Al-Farabi yang dikenal sebagai filsuf Islam terbesar, memiliki keahlian dalam banyak bidang keilmuan dan memandang filsaf secara utuh dan menyeluruh serta mengupasnya dengan sempurna.
             Al-Farabi dikenal dengan filsuf sinkretisme karena berusaha menggabungkan beberapa aliran filsafat  (al-falsafah al- taufiqiyyah atau wahdah al-falsafah) yang berkembang sebelumnya, terutama tentang pemikiran Plato, Aristoteles dan Plotinus, juga antara agama dan filsafat. 
             Al-Farabi memiliki kahliab  dalam bidang logika melebihi Al-Kindi. Beliau dapat menjelaskan berbagai system logika serta menetralisir dengan teratur sehingga mudah dimengerti. Dengan berbagai kealiman ilmu di berbagai lapangan ilmu.
  

DAFTAR PUSTAKA

Hasyimsyah Nasution, Hasyimsyah. 1999 Filsafat Islam, Jakarta: Gaya Media Pratama.
Hyman, Arthur dan James J. Walsh. 1969. Philosophy in the Middle Ages. New York
Khallikan, Ibn Wafayat al-A’yan, Cairo, 1275/1958, Vol. II. hh. 112-14
Yuhana Qumair, Yuhana. 1986. Al-Farabi, Beirut: Dar al-Masyriq.
Yunasril Ali, Yunasril. 1991. Perkembangan Perkembangan Filsafi Dalam Islam Jakarta: BUMI AKSARA.




[1] Ibn Khallikan, Wafayat al-A’yan, Cairo, 1275/1958, Vol. II. hh. 112-14
[2] Al-Bahi, hlm. 374.
[3] Arthur Hyman dan James J. Walsh, Philosophy in the Middle Ages (New York:1969), hlm. 236.
[4] Yuhana Qumair, Al-Farabi, (Beirut: Dar al-Masyriq, 1986), hlm. 9-11.
[5] Hasyimsyah Nasution, Filsafat Islam, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 1999), hlm. 34-35.
[6] Yunasril Ali, Perkembangan Perkembangan Filsafi Dalam Islam (Jakarta: BUMI AKSARA, 1991), hlm.
[7] Hasyimsyah Nasution, Op.cit, hlm.35-36.
[8] Yunasril Ali, Op.cit, hlm. 45-46.
[9] Hasyimsyah Nasution, Op.cit, hlm. 38.
[10] Ibid, hlm. 39-41.
[11] Yunasril Ali, Op.cit, hlm. 50-53.