BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Mengkaji filsafat
islam tidak semudah membalikkan telapak tangan, ia sarat dengan muatan teologis
dan historis. Secara historis, tarik menarik kepentingan bahwa orientasi
filsafat itu berasal dari Yunani atau dari Islam adalah fakta yng tidak bisa
dihindari. Begitu pula, dalam tataran teologis, penerimaan filsafat kerap
berbenturanantara keimanandan pemikiran liberal filsafat.
Dalam tradisi
filsafat, agar bisa sampai pada suatu makna yang esensi dari suatu hal,
seseorang harus melakukan penjelajahan secara radikal, logis dan serius. Itulah
sebabnya , Aristoteles memberikan komentar, “apabila hendak menjadi seorang
filsafat, Anda harus berfilsafat”. Adapun dalam makalah ini kami akan membahas
biografi Al-Farabi dan pemikiran filsafat Al-Farabi.
B.
Rumusan
Masalah
1.
Bagaimana
biografi Al-Farabi?
2.
Apa
saja karya-karya Al-Farabi?
3.
Bagaimana
filsafat Al-Farabi?
C.
Tujuan
1.
Untuk
mengetahui bagaimana biografi Al-Farabi.
2.
Untuk
mengetahui apa saja karya-karya Al-Farabi.
3.
Untuk
mengetahui bagaimana filsafat Al-Farabi.
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Al-Farabi
1.
Biografi
Al-Farabi
Abu Nasr
al-Farabi lahir pada tahun 258 H/870 M dan meninggal pada tahun 339 H/950 M.
Sebagai pembangun agung sistem filsafat, ia telah membaktikan diri untuk
berfikir dan merenung, menjauh dari kegiatan politik, gangguan dan kekisruhan
masyarakat. Ia telah meninggalkan sejumlah risalah penting. Di samping
murid-murid yang belajar langsung, banyak pula orang yang mempelajari
karya-karyanya sepeninggalnya, dan menjadi pengikutnya. Filsafatnya menjadi
acuan pemikiran ilmiah bagi Barat dan Timur, lama sepeninggalnya.
Sejak dasa
warsa terakhir abad ke-13 H/ke-19 M, telah dilakukan banyak usaha untuk menulis
bigrafinya, mengumpulkan karya-karya yang belum diterbitkan, dan menjelaskan
berbagai hal yang masih samar di dalam karya filsafatnya. Pada tahun 1370
H/1950 M, seribu tahun setelah meninggalnya, beberapa sarjana Turki menemukan
beberapa karyanya yang masih berupa naskah dan memecahkan beberapa kesulitan
yang berkaitan dengan pemikirannya. Kita tak dapat mengatakan bahwa seluruh
kesulitan itu telah terpecahkan. Bahkan kita tidak dapat memastikan apakah
mampu memecahkan semua kesulitan itu tanpa mengetahui lebih jauh kehidupan dan
karya-karyanya. Perpustakaan-perpustakaan umum dan pribadi masih menyimpan
banyak naskah Islami; menurut hemt kami, kinilah saatnya naskah-naskah itu
dikeluarkan.
2.
Kehidupannya
Berbeda dengan kelaziman beberapa sarjana Muslim lainnya, Al-farabi
tidak menuliskan riwayat hidupnya, dan tak seorang pun diantara pengikutnya
merekam kehidupannya, sebagaimana telah dilakukan Al-Juzjani untuk gurunya,
Ibnu Sina. Materi untuk itu dalam karya-karya
ahli riwayat, sangat tidak memuaskan dan tidak memadai. Biografi yang agak
panjang termaktub dalam Wafayat al-A’yan-nya ibn Khalikan,[1] pada
waktu mudanya, Al-Farabi pernah belajar bahasa dan satra Arab di Bagdad kepada
Abu Bakar al-Saraj, dan logika serta filsafat kepada Abu Bisyr Mattitus ibn
Yunus, seorang Kristen Nestorian yang banyak menerjang mahkan filsafat Yunani,
dan kepada Yuhana ibn Hailam. Kemudian ia pindah ke harran, pusat kebudayaan
Yunani di Asia kecil, dan berguru kepada Yuhana ibn Jilad. Tetapi tidak berapa
lama, ia kembali ke Bagdad untuk memperdalam Filsafat. Ia menetap di kota ini
selama 20 tahun.[2]
Di Bagdad ini juga ia menulis dan membuat ulasan terhadap buku-buku filsafat
Yunani dan mengajar. Di antara muridnya yang terkenal adalah Yahya ibn ‘Adi,
filsuf Kristen.
Pada tahun 330 H (945 M), ia pindah ke Damaskus, dan berkenalan
dengan Saif al-Daulah al-Hamdani, Sultan Dinasti Hamdan di Aleppo. Sultan
memberinya kedudukan sebagai seorang ulama istana dengan) tunjangan yang besar
sekali, tetapi Al-Farabi lebih memilih hidup sederhana (zuhud) dan tidak
tertarik dengan kemewahan dan kekayaan. Ia hanya memerlukan empat dirham saja
sehari untuk sekedar memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Tetapi, hal yang
menggembirakannya di tempat yang baru ini, Al-Farabi bertemu dengan para
satrawan, penyair, ahli bahasa, ahli fiqih, dan kaum cendekiawan lainnya.
Konon, kegemaran membaca dan menulisnya sering dilakukannya di bawah sinar
lampu penjaga malam. Adapun sisa tunjangan jabatan yang diterimanya,
dibagi-bagikan kepada fakir-miskin dan amal sosial di Aleppo dan Damaskus.
Lebih kurang 10 tahun Al-Farabi hidup di dua kota ini semakin memburuk,
sehingga Saif al-Daulah menyerbu kota Damaskus yang kemudian dapat dikuasai.
Dalam penyerbuan ini Al-Farabi diikutsertakan. Pada bulan Desember 950
Al-Farabi meninggal di Damaskus di dalam usia 80 tahun.
Al-Farabi yang dikenal sebagai filsuf Islam terbesar, memiliki
keahlian dalam banyak bidang keilmuan dan memandang filsaf secara utuh dan
menyeluruh serta mengupasnya dengan sempurna, sehingga filsuf yang datang
sesudahnya, seperti ibn Sina dan ibn Rusyd dapat mengambil dan mengupas sistem
filsafatnya. Pandangannya yang demikian
mengenai filsafat, terbukti dengan usahanya untuk mengakhiri kontradiksi antra
pemikiran plato dengan Aristoteles lewat risalahnya Al-Jam’u Ra’yay Al-Hakimin Aflathun wa Aristhu. Ada
riwayat yang menyebutkan bahwa ibn Sina telah membaca 40 kali buku metafisika
karangan Aristoteles, bahkan hampir seluruh isi buku itu dihapalnya, tapi belu
dipahaminya. Barulah Ibn Sina memahami benar filsafat Aristoteles setelah
membaca buku Al-Farabi, Tahqiq Ghardh Aristhu fi Kitab ma Ba ‘da al-Thabi ‘ah
yang menjelaskan tujuan dan maksud metafisika Aristoteles. Pengetahuannya yang
mendalam mengenai filsafat Yunani, terutama Plato dan Aristoteles, ia dijuluki
al-Mu ‘allim al-Tsani (guru kedua), sedangkan al-Mu ‘allim al-Awwal (guru
pertama) adalah Aristoteles.[3]
3.
Karyanya
Adapun hasil karya Al-Farabi yang masih lestari sampai sekarang
adalah:
1.
Maqalatun
fi ma’anil-aql. Berisi tentang akal, pembagiannya dan sumber ilmu (makrifat).
2.
Al-Jami’
baina rakyil-Hakimain. Di antara kandungannya ialah mempertemukan pendapat dua
orang filosof Yunani yang masyur Plato dan Aristoteles.
3.
Fima
yanbaghi an-yuqaddima qabla ta’allumil falsafah. Dalam buku ini ia mengemukakan
bahwa logika tidak termasuk filsafat, tetapi sebagai alat untuk mempelajarinya.
4.
Al-Ibanah
an ghardhi Aristo fi kitabi ma ba’dat tabi’ah. Penjelasan tujuan metafisika Aristoteles terutama tentang
hakikat wujud di tinjau dari materi dan bentuk.
5.
Al-Masa-ilul-falsafah
wal ajwibatu anha. Kelanjutan penjelasan dari buku ke empat di atas, untuk
sampai menetapkan Tuhan sebagai pencifta alam ini.
6.
Fushushul-hikam.
Membahas tentang qidam dan hadisnya alam, kedudukan Malaikat langit dan dunia.
7.
Ara’
u ahlil-madinah al-fadhilah. Suatu teori tentang politik kekotaan (negara
utama), di mana warga negaranya makmur dan bahagia.
8.
Ihsha
al-ulum wat-ta’rif bi aghradhiha. Menjelaskan tentang pembagian dan macam-macam
ilmu.
9.
Syuruh
Risalah Zainun al-Kabir al-Yunani.
10. Al-Ta ‘liqat.
11. Risalah fima Yajibu Ma ‘rifat Qabla Ta ‘allumi al-Falsafah.
12. Kitab Tahsil al-Sa ‘adah.
13. Risalah fi Itsbat al-Mufaraqah.
14. ‘Uyun al-Masa’il.
15. Risalah al-‘Aql.[4]
16. Al-Siyasah al-Madaniyah.
4.
Filsafatnya
1.
Pemaduan
Filsafat
Al-Farabi
berusaha memadukan beberapa aliran filsafat (al-falsafah al- taufiqiyyah atau wahdah
al-falsafah) yang berkembang sebelumnya, terutama tentang pemikiran Plato,
Aristoteles dan Plotinus, juga antara agama dan filsafat. Karena itu ia dikenal
filsuf sinkretisme yang mempercayai kesatuan filsafat. Dalam ilmu logika dan
logika dan fisika ia dipengaruhi oleh Aristoteles. Dlam akhlak dan politik ia dipengaruhi
oleh Plato. Sedangakan dalam metafisika ia dipengaruhi oleh Plotinus.
Untuk
mempertemukan dua filsafat yang berbeda seperti Aristoteles dan Plato mengenai
idea—Aristoreles tidak mengakui bahwa hakikat itu adalah idea, karena bila hal
tersebut diterima maka alam realitas ini tidak lebih dari alam khayal atau
sebatas pemikiran saja, sedangkan Plato mengakui idea sebagai satu hal berdiri
sendiri dan menjadi hakikat segala-galanya—Alfarabi menggunakan interpretasi
batini, yakni dengan ta’wil. Menurut
Al-Farabi Aristoteles sebsnarnya mengakui alam rohani yang terdapat diluar alam
ini. Jadi kedua filsuf sama-sama mengakui adanya idea-idea pada zat Tuhan.
Kalaupun terdapat perbedaan kemungkinan terjadi karena 3 hal:
1. Defenisi tentang filsafat tidak benar.
2. Pendapat orang banyak tentang pemikiran
filsafi dari kedua filsuf tersebut dangkal.
3. Pengetahuan adanya perbedaaan antara
keduanya tidak benar.
Adapun
perbedaan agama dengan filsafat tidak ada karena keduanya mengacu pada
kebenaran meskipun posisi dan cara memperolehnya berbeda. Dan kebenaran yang
terdapat pada keduanya serasi karena bersumber dari Akal Aktif. Kebenaran yang
diperoleh filsub berasal dari Akal Mustafad, sedangkan Nabi melalui wahtu. Dan
jika bertentangan antara keduanya maka digunakanlah ta’wil filosofis. Dengan demikian filsafat yunani tidak
bertentangan dengan ajaran Islam.[5]
2. Metafiska
Ada tiga
segi pokok permasalahan metafisika, yaitu:
1. Segi esensi (zat) dan eksistensi (wujud)
sesuatu.
2. Pokok Utama segala yang maujud.
3. Prinsip utama gerak dasar menurut ilmu
pengetahuan.[6]
Dalam
masalah ketuhanan, Al-Farabi
menggunakan pemikiran Aristoteles dan Neo-Platonisme, yakni al-maujud al-awwal sebagai sebab pertama
bagi segala yang ada. Bagi Al-Farabi zat ada
dua bagian, yakni Wajib al-Wujud dan Mumkin al-wujud.
Wajib al-Wujud (wajib ada) adalah
wujudnya tidak boleh tidak ada, ada dengan sendirinya, esensi dan wujudnya sama
dan satu. Yakni wujud yang sempurna selamanya, jika tidak maka timbul
kemustahilan karena wujud lain tergantung padanya. Inilah yang disebut dengan
Tuhan. Sedangkan Mumkin al-wujud (mungkin
ada) yaitu yang pernah tidak ada dan kemudian ada dan keadaannya itu bisa
berakhir seperti bumi. Dan tidak akan berubah tanpa ada yang menguatkan yakni Wajib al Wujud.
Tentang
sifat Tuhan Al-farabi sepaham dengan Mu’tazilahyani sifat Tuhan tidak berbeda
deengan Substansinya. Orang boleh menyebut Asma’
al-husna sebanyak-banyaknya, namun tidak menunjukkan sifat yang berbeda
dengan zat Nya. Tuhan adalah ‘Aql, ‘Aqil, dan Ma’qul (Akal, Substansi yang
berfikir, dan Substansi yang difikirkan), dan juga ‘ilm, ‘Alim, dan Ma’lum
(Ilmu, substansi yang mengetahui, dan substansi yang diketahui).
Tentang
ilmu Tuhan Al-Farabi terpengaruh Aristoteles yang mengatakan Tuhan tidak
menetahui dan memikirkan alam. Pemikiran ini dikembangkan Al-Farabi dan mengatakan
Tuhan tidak mengetahui yang Juz’iyyah (particular) maksudnya pengetahuan Tuhan
tentang yang rinci tidak sama dengan manusia, Tuhan dapat menangkap yang kulli (universal). Sedangkan Juz’i hanya dapat ditangkap panca
indera.[7]
3. Teori Emanasi (Nazhariatul-Faidh)
Tentang
penciptaan alam Al-Farabi mengemukakan teori tentang emanasi. Yang merupakan gabungan teori Aristoteles dan Plotinus.
Bagi Aristoteles Tuhan adalah akal yang berfikir sedangkan Plotinus telah
mencetuskan teori emanasinya. Al-Farabi menggabungkan kedua teori tersebut
menjadi teori emanasinya.
Emanasi
pada dasarnya terjadi dalam bentuk tunggal dan bertingkat secara mekanis
determinis yang akhirnya melahirkan alam yang aneka warna. Dari tunggal pertama
lahir tunggal kedua sebagai satu kesatuan, dari yang kedua timbul yang ketiga
dan seterusnya hingga sampai pada yang kesepuluh.
Jelasnya
proses emanasi diterangkan sebagai berikut: Tuhan sebagai wujud pertama dan
akal murni, yang menjadi subjek fikir sekaligus objeknya. Dengan ta’aqqul (berfikir) mulailah ciptaan
Tuhan dengan pelimpahan. Tuhan merupakan wujud pertama (wujud al-awwal) dengan pemikiran itu timbul wujud kedua (dalam
urutan emanasi) itu disebut Al-Aqlul-awwal
(akal I). Akal I berta’aqqul terhadap wujud pertama melimpahkan Al-Aqlu ats-tsani (akal II) dan ta’aqqul
terhadap dirinya sendiri melahirkan Al-Falakul-a’la
(langit pertama), dan mulai terdapat keanekaragaman (pluralitas). Akal II/wujud ketiga berta’aqqul tentang wujud
pertama, melahirkan Al-Aqlu ats-tsalis
(akal III) atau wujud keempat dan ta’aqqulnya terhadap dirinya sendiri
menimbulkan Kurratul Kawakib ats-tsabitah
(bintang-bintang). Demikianlah seterusnya ta’aqqul akal III/wujud keempat
melimpahkan akak IV/wujud kelima dan berta’aqqul terhadap dirinya sendiri
melahirkan Kurratuz-Zuhal (Planet
Saturnus) yang bersamaan muncul dengan akal IV/wujud kelima, Kurratul Musytari (planet Yupiter) sama
lahir dengan akal V/wujud keenam, Kurratul
Marikh(planet Mars) bersamaan lahir dengan akal VI/wujud ketujuh, Kurratusy-syams (matahari) sama timbul
dengan akal VII/wujud kedelapan, Kurratu
Az-Zahrah (planet Venus) sama memancar dengan akal VIII/wujud kesembilan, Kurratul-Utharid (planet merkurius) sama
muncul dengan akal IX/wujud kesepuluh, Kurratul-Qamar
(bulan) sama melimpah dengan akal X/wujud kesebelas.[8]
Pada wujud kesebelas tidak ada lagi pelimpahan, tetapi
dari akal X yang disebut Al-Aqlul-Fa’al
(akal aktif) terpancarlah jiwa dan unsur pertama materi. Dari akal 10 muncul
bumi sera roh-roh yang menjadi dasar keempat unsur yakni api, udara, air dan
tanah. Demikian ada 10 akal dan 9 langit (dari teori Yunani tentang 9 langit [sphere] yang kekal berputar
disekitar bumi). Akal 10 mengatur dunia disebut juga ‘Aql Fa’al (Akal Aktif) atau wahib
al-shuwar (pemberi bentuk) dan terkadang disebut Jibril mengurusi kehidupan
dibumi. Hal ini disebabkan Tuhan berpikir tentang diri-Nya menghasilkan daya
atau energy yang karenanya menghasilkan sesuatu, maka terciptalah akal 1 sampai
10.
Al-Farabi
mengklasifikasikan yang wujud kepada dua rentetan:
1. Rentetan wujud yang esensinya tidak berfisik.
Varitas yang tidak berfisik tidak menempati fisik (Allah, Akal Pertama, dan
Uqaul al-Aflak. Serta yang tidak berfisik menempati fisik (Jiwa, bentuk dan
materi).
2. Rentetan wujud yang berfisik, yaitu
benda-benda langit, manusia, hewan, tumbuhan, benda tambang dan keempat unsur.
Tujuan Al-farabi mengemukakan
teori emanasi tersebut untuk menegaskan kemahaesaan Tuhan.[9]
4. Jiwa
Tentang
jiwa, Al-Farabi juga dipengaruhi oleh filsafat Plato, Aristoteles, dan
Plotinus. Jiwa bersifat rohani, bukan materi, terwujud setelah adanya badan dan
jiwa tidak berpindah ke badan yang lain.
Jiwa
manusia disebut al-nafs al-nathiqah, yang
berasal dari alam ilahi, sedangkan jasad berasal dari alam khalq, berbentuk, berupa, berkadar, dan bergerak. Jiwa manusia
mempunyai daya-daya,sebagai berikut:
1. Daya gerak (al-Muharrikah, montion), yakni makan, memelihara, dan berkembang.
2. Daya mengetahui (al-Mudrikah, cognition), yakni merasa, imaginasi
3. Daya berpikir (al-Nathiqah, intellection), yakni akal praktis, dan akal teoritis.
Daya teoritis terbagi kepada tiga tingkatan, yaitu:
1. Akal Potensial (material intellect) mempunyai potensi berfikir dalam
arti:melepaskan arti atau bentuk materialnya
2. Akal Aktual (actual intellect) telah dapat melepaskan dari materialnya dan
mempunyai wujud akal sebenarnya berbentuk actual.
3. Akal Mustafad (acquired intellect) menangkap bentuk yang tidak dikaitkan dengan
materi dan mempunyai kesanggupan mengadakan komunikasi dengan akal 10.
Mengenai
keabadan jiwa, Al-Farabi membedakan menjadi jiwa khalidah dan fana. Jiwa khalidah, yaitu jiwa yang mengetahui
kebaikan dan perbuatan baik serta dapat melepaskan diri dari ikatan jasmani,
dan tidak hancur. Sedangkan jiwa fana
adalah jiwa jahiliah, tidak mencapai
kesempurnaan karna belum dapat melepaskan diri dari ikatan materi dan hancur
sehancur-hancurnya badan.
5. Politik
Pendapat
tentang Negara utama banyak dipengaruhi oleh konsep Plato yang menyamakan
Negara dengan tubuh manusia. yang paling penting adalah kepala, karena dari
kepala (otak) segala perbuatan manusia dikendalikan.
Menurut
Al-Farabi yang paling penting dalam Negara adalah pimpinannya, bersama dengan
bawahannya sebagaimaan halnya jantung dan organ tubuh yang lebih rendah
berturut-turut. Haruslah orang yang unggul dan berkualitas berupa:
1)kecerdasan, 2) ingatan yang baik, 3) pikiran yang tajam, 4) cinta pada
pengetahuan, 5) sikap moderat dalam makanan,minuman, 6) cinta pada kejujuran,
7) kemurahan hati, 8) kesederhanaan, 9) cinta keadilan, 10) ketegaran dan
keberanian, 11) kesehatan jasmani, 12) kefasihan berbicara.[10]
6. Moral
Masalah
nilai baik dan buruk dalam etika erat kaitannya dengan metafisika yang
menyangkut akal kesepuluh yang dirasakan melalui akal mustafad, inilah yang
membawa kebahagiaan abadi.
Dalam kitab
at-Tanbih fi Sabilis-Sa’adah Al-Farabi menyebutkan bahwa cara praktis mencapai
kebahagiaan orang harus membiasakan melakukan perbuatan baik hingga menjadi
akhlak yang meresap dalam dirinya. Diantaranya: memperhatikan kesehatan, tidak
berlebihan dalam makan dan minum, bersifat jujur, berani, hemat, dan hidup
bersih.
Martabat
manusia ditentukan oleh perbuatannya, orang yang menuruti syahwatnya akan
berbuat yang buruk, dan dialah orang yang sesat. Orang yang berfikir sehat,
perbuatannya mengarah pada yang baik-baik, dialah manusia merdeka. Hal ini
sejalan dengan kehidupan aufinya, dimana ia lebih banyak berfikir, merenung dan
mengarang.
7. Teori Kenabian
Sebagaimana diketahui akal sepuluh data
berkomunikasi langsung dengan manusia. dengan inilah para filosof mendapat
hakikat-hakikat demikian juga para nabi/rasul. Mereka menerima wahyu melalui
komunikasi akal kesepuluh ini jelas bahwa kebenaran yang diterima nabi/rasul
tidak bertentangan, mereka menerima kebenaran dari sumber yang sama.
Al-Farabi
mengakui ketinggan nabi/rasul daripada filosof, karena nabi/rasul sudah dipilih
Tuhan, tanpa usahanya sendiri ia mendapat wahyu, tetapi filosof harus bekerja
keras untuk mendapatkan inspirasi dari akal kesepuluh. Al-Farabi juga mengakui
ketinggian agama dari filsafat. Baginya filsafat yang benar ialah yang tidak
bertentangan dengan agama.[11]
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Al-Farabi yang dikenal sebagai filsuf Islam terbesar, memiliki
keahlian dalam banyak bidang keilmuan dan memandang filsaf secara utuh dan
menyeluruh serta mengupasnya dengan sempurna.
Al-Farabi dikenal dengan filsuf sinkretisme karena berusaha menggabungkan beberapa
aliran filsafat (al-falsafah al- taufiqiyyah atau wahdah
al-falsafah) yang berkembang sebelumnya, terutama tentang pemikiran Plato,
Aristoteles dan Plotinus, juga antara agama dan filsafat.
Al-Farabi
memiliki kahliab dalam bidang logika
melebihi Al-Kindi. Beliau dapat menjelaskan berbagai system logika serta
menetralisir dengan teratur sehingga mudah dimengerti. Dengan berbagai kealiman
ilmu di berbagai lapangan ilmu.
DAFTAR PUSTAKA
Hasyimsyah Nasution, Hasyimsyah. 1999 Filsafat Islam, Jakarta: Gaya Media
Pratama.
Hyman, Arthur dan James J. Walsh. 1969. Philosophy in the Middle Ages. New York
Khallikan, Ibn Wafayat al-A’yan,
Cairo, 1275/1958, Vol. II. hh. 112-14
Yuhana Qumair, Yuhana.
1986. Al-Farabi, Beirut: Dar al-Masyriq.
Yunasril Ali, Yunasril. 1991. Perkembangan Perkembangan Filsafi Dalam
Islam Jakarta: BUMI AKSARA.
[2] Al-Bahi, hlm. 374.
[3] Arthur Hyman dan James
J. Walsh, Philosophy in the Middle Ages (New York:1969), hlm. 236.
[4] Yuhana Qumair,
Al-Farabi, (Beirut: Dar al-Masyriq, 1986), hlm. 9-11.
Coba anda jelasakan mengapa al Farabi membagi daya pikir menjadi 3 bagian
BalasHapusapakah sinkretisme sama dengan talfiq dan bagaimana pandangan anda mengenai sinkretisme ini?
BalasHapusYa sinkretisme sama dengan talfiq karena memiliki arti yang sama yaitu penggabungan dari beberapa kepercayaan yang sulit untuk dipahami dan kurang serasi bagi ummat islam, meskipun sampai saat ini belum ada yang dapat menyimpulkan dengan jelas apa itu talfiq.
HapusMenurut pandangan saya mengenai sinkretisme adalah penggabungan dari beberapa kepercayaan yang bersifat abstrak dan sulit untuk dipahami sehingga aliran ini tidak perlu dipelajari atau diperdalam dalam ajaran agama islam karna sangatlah rumit untuk memahami ini bagi saya.
Apa yang dimakasud teori emanasi?
BalasHapus