Kamis, 13 Agustus 2020

RELASI AGAMA DAN KESEHATAN (SAINS)

 RELASI AGAMA DAN KESEHATAN (SAINS)

 

Agama dan Sains merupakan dua hal yang menarik untuk diperbincangkan. Kedua bidang ilmu ini memiliki cara pandang tersendiri dalam memaknai kehidupan dan alam. Agama menggunakan kacamata spiritualitas, dan sains menggunakan kacamata empiris. Dimaan agama lebih dominan kepada kepercayaan sedangkan sains lebih kepada penelitian yang memang dapat dibuktikan dan diterima oleh akal manusia. Sains dan agama pada abad ke-19 juga memiliki sejarah yang berpengaruh besar terhadap keduanya. Dalam dunia Islam, sains dan agama diperbincangkan cukup ketat, antara pemisahan dan integrasinya. Di dalam sejarah Islam terdapat kelompok yang mengharuskan pemisahan antara sains dan agama, terdapat pula kelompok yang berupaya melakukan integrasi antara keduanya.

Sains perspektif Islam pemihakannya terhadap kebenaran menjadi ukuran sah-tidaknya sains, karena metode yang digunakan didasarkan bukan hanya pada empiris tetapi juga wahyu. Keseimbangan antara akal dan wahyu memang menjadi hal yang tidak dapat terlepas dari sains Islam. Dalam perspektif normatifitas, tidak terdapat sedikitpun wahyu yang bertentangan dengan historisitas. Artinya, sains sebagai aplikasi dari historisitas beragama tidak mungkin bertentangan dengan wahyu yang merupakan aplikasi normatifitas.

Sains secara umum memiliki standar tersendiri, diantaranya : sains untuk sains, mengedepankan rasionalitas, sains merupakan satu-satunya metode untuk mengetahui realitas, tidak memihak, tidak bias, reduksionisme, fragmentasi (pembagian ke dalam disiplin-disiplin), universalisme, netralitas, individualisme, kebebasan absolut, dan tujuan membenarkan sarana. Standar-standar tersebut menyimpulkan bahwa dalam pandangan Barat, sains itu bebas nilai, memiliki badan tersendiri tetapi bersifat universal.

Hakikat Ilmu Sains

Kata "ilmu" (plural : ulum) yang berasal dari bahasa Arab, yang juga bersinonim dengan kata "science" dalam bahasa Inggris. Dalam pandangan Mulyadhi Kartanegara, istilah ilmu dalam epistemologi Islam memiliki kemiripan dengan istilah science dalam epistemologi Barat. Dalam epistemologi Barat, science dibedakan dengan knowledge. Begitu pula dalam Islam, ilmu dibedakan dengan ro'y (opini). Ilmu (science) bukan sekedar opini, melainkan pengetahuan yang telah teruji kebenarannya.

 

Relasi agama dan sains

            Agama dan sains, merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan, karena sebenarnya kedua hal ini saling berkaitan satu sama lain. agama dan sains juga merupakan bagian penting dalam kehidupan sejarah umat manusia. Bahkan pertentangan antara agama dan sains tak perlu terjadi jika kita mau belajar mempertemukan ide-ide spiritualitas (agama) dengan sains yang sebenarnya saling melengkapi. Maka dengan kata lain, tidak ada perbedaan ataupun bertentangnya antara ilmu dan agama jika kita memiliki ilmu untuk mencari kebenarannya.

            Peacock sebagaimana dikutip Zainul Arifin menggambarkan sains dan agama sebagai suatu entitas yang memiliki persamaan dan perbedaan, dan relasi diantara keduanya terjadi hanya dalam tataran intelektual. Hal ini didasarkan pada sebuah keyakinan bahwa manusia pada saat ini sedang menjalani hidupnya dalam konteks sains. Artinya, segala pola pikir dan tingkah laku manusia dalam hidupnya telah dikuasai oleh cara pandang sains terhadap dunia.

            Upaya untuk menghubungkan dan memadukan antara sains dan agama, tak harus berarti menyatukan atau bahkan mencampuradukkan, karena identitas atau watak dari masing-masing keduanya tidak harus hilang, namun harus tetap dipertahankan. Integrasi yang diinginkan adalah integrasi yang “konstruktif”, hal ini dapat dimaknai sebagai suatu upaya integrasi yang menghasilkan konstribusi baru (untuk sains dan/atau agama), yang dapat diperoleh jika keduanya terpisahkan.

            Titik temu antara agama dan sains mungkin dapat dimulai dari mengafirmasi fungsi keduanya. Agama berfungsi membimbing umat manusia agar hidup tenang dan bahagia di dunia dan akherat. Adapun sains dan teknologi berfungsi sebagai sarana mempermudah aktifitas manusia di dunia.[1][19] Kebahagiaan dunia menurut agama merupakan prasyarat mendapatkan kebahagiaan akherat. Sains adalah sarana untuk membahagiakan dan mempermudah manusia dalam beraktifitas di dunia. Adanya mobil membuat manusia lebih cepat sampai ke tujuan yang jauh. Adanya teknologi arsitektur, membuat manusia mampu membangun rumah yang nyaman dan indah. Adanya teknologi internet membuat manusia lebih cepat mendapatkan informasi. Dalam pandangan agama, semua hal tersebut penting, karena ketenangan dan kenyamanan membuat manusia lebih leluasa menjalankan aktifitas keagamaannya, dan mengantarkan kepada kebahagiaan akherat.

            Jadi antara agama dan sain, keduanya saling berhubungan. Karena dengan adanya agama maka segala sesuatu yang dibuktikan didalam ilmu sains itu benar adanya dan meperkuat opini opini yang diteliti secara ilmiah tersebut. Jadi intinya agama menguatkan kebenaran sains.

            Contohnya saja penelitian tetang tidak baiknya minum sambil berdiri dalam kesehatan yang sudah diteliti kebenaraanya secara sains, dan agama juga melarang hal tersebut. Yang dapat dibuktikan dengan hadist Nabi Muhammad SAW, yaitu: Dari Abu Hurairah, juga meriwayatkan bahwa Nabi bersabda :” janganlah seorang dari kalian minum sambil berdiri, siapa yang lupa maka hendaknya ia memuntahkannya lagi”.(HR. Muslim).

Begitu juga fakta ilmiahnya dimana minum sambil berdiri ternyata bisa menyebabkan berbagai gangguan kesehatan baik ringan maupun serius. Karena jikafilter penyaringan akan terbuka pada saat posisi tubuh kita dalam keadaan duduk. Maka jika kita minum dalam keadaaan berdiri maka air yang kita minum tidak akan tersaring oleh ginjal dengan baik. Sehingga akan menyebabkan gangguan pada kesehatan terutama organ dalam kita yaitu ginjal.

Agama melarang untuk tidak meniiup makanan dan minuman dalam kedaan panas.


            Setiap ajaran agama pasti menganjurkan kita untuk menjaga kesehatan,serta dalam ilmu kesehatan sendiri pasti tidak akan terlepas pada ilmu agama. Karena kedua bidang tersebut memiliki keterkaitan pola hubungan antara satu dengan lainnya. Maka hendaknya kita sebagai umat beragama selalu menjaga kesehatan dan senantiasa mendekatkan diri kepada tuhan. Hal tersebut kita lakukan agar mampu menjaga keseimbangan pola hubungan antara agama dan kesehatan.

 

https://ntb.kemenag.go.id/baca/1468463871

Arifullah, Mohd. Juni 2006. Hubungan Sains Dan Agama. Jurnal KONSTEKTUALITA Vol. 21, No. 2.



 

1 komentar:

  1. mohon bantuan, dukungan dan doanya ya teman teman.. jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan memberikan kritik dan saran yang membangun,, semoga bermanfaat

    BalasHapus